
El John News, Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI belum mengeluarkan peringatan perjalanan atau travel warning bagi warga negara Indonesia (WNI) yang hendak bepergian ke Eropa, meskipun demonstrasi dan kerusuhan terjadi di sejumlah negara kawasan tersebut. Pemerintah meminta WNI tetap waspada, mengikuti perkembangan keamanan, serta mempertimbangkan potensi gangguan transportasi sebelum melakukan perjalanan.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah menyampaikan hal tersebut dalam press briefing di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
“Untuk travel warning ke Eropa saat ini belum ada,” kata Heni.
Kendati belum menerbitkan peringatan perjalanan, Kemlu mengingatkan WNI yang berada di Eropa agar tidak mengabaikan perkembangan situasi di wilayah masing-masing. WNI diminta memantau informasi keamanan dari otoritas setempat dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi di lapangan berpotensi mengganggu keselamatan maupun mobilitas.
Kemlu juga menekankan pentingnya memperhitungkan kemungkinan terganggunya layanan transportasi umum ketika menyusun rencana perjalanan.
“Bagi WNI yang ada di Eropa, diharapkan dapat menyesuaikan rencana perjalanan dengan memperhatikan kemungkinan adanya gangguan transportasi umum di Eropa sendiri,” jelas Heni.
Menyikapi kerusuhan demonstrasi pada 17–18 Oktober 2026, Kemlu menyatakan belum menerima laporan mengenai WNI yang terdampak di Prancis dan Italia. Informasi tersebut diperoleh melalui perwakilan RI yang bertugas di kedua negara.
Perwakilan Indonesia yang memantau kondisi tersebut meliputi KBRI Paris, KJRI Marseille, dan KBRI Roma.
“Berdasarkan perwakilan RI kita terkait di Prancis maupun di Italia, yaitu di KBRI Prancis, KJRI Marseille, dan KBRI Roma, hingga saat ini belum terdapat laporan terkait adanya WNI yang terdampak atas kerusuhan demonstrasi tersebut,” ujar Heni.
Berdasarkan data Kemlu, terdapat 5.442 WNI di Prancis dan 2.403 WNI di Italia. Kemlu bersama perwakilan RI di negara-negara tersebut akan terus mengikuti perkembangan keamanan serta menjaga komunikasi dengan warga Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan situasi memburuk.
Rangkaian demonstrasi di Eropa berlangsung di sejumlah negara dengan latar belakang persoalan yang berbeda. Aksi dilaporkan bermula di Créteil, tenggara Paris, Prancis, pada 17 September, ketika para guru memprotes kekurangan tenaga pengajar.
Gelombang demonstrasi kemudian muncul di Spanyol pada 26 September, Belgia pada 1 Oktober, Italia pada 5 Oktober, Portugal pada 10 Oktober, dan Albania pada 12 Oktober.
Di Prancis, demonstrasi pada 17–18 Oktober diwarnai penjarahan toko, perusakan bangunan, serta pembakaran sejumlah fasilitas. Pemerintah setempat juga mengumumkan pemberlakuan jam malam di beberapa wilayah sebagai upaya meredam kerusuhan.
Meski berlangsung dalam rentang waktu berdekatan, aksi di berbagai negara tersebut tidak sepenuhnya memiliki pemicu yang sama. Tuntutan demonstran antara lain berkaitan dengan persoalan pendidikan, meningkatnya biaya hidup, pemangkasan layanan publik, hingga krisis perumahan.
Di Spanyol, keterjangkauan hunian menjadi salah satu persoalan yang mendorong demonstrasi. Sementara itu, di sejumlah negara lain, aksi berkaitan dengan kondisi pendidikan dan kebijakan pemerintah.
Di tengah perkembangan tersebut, Kemlu mengimbau WNI agar terus mengikuti informasi resmi, memperhatikan arahan otoritas setempat, dan mengutamakan keselamatan saat beraktivitas maupun bepergian. Pemantauan oleh Kemlu dan perwakilan RI juga terus dilakukan untuk mengikuti kondisi warga Indonesia di kawasan tersebut.
Penulis
Tim redaksi El John Media yang berfokus pada liputan pariwisata, bisnis, dan gaya hidup Indonesia.