El John Media Logo
BerandaBeritaHadiri Upacara Penurunan Bendera Merah Putih, FSKN Ajak Generasi Muda Jaga Sejarah dan Jati Diri Bangsa
17 Agustus

Hadiri Upacara Penurunan Bendera Merah Putih, FSKN Ajak Generasi Muda Jaga Sejarah dan Jati Diri Bangsa

s
savira
19 Agustus 2026
5 menit baca
6 pembaca
Hadiri Upacara Penurunan Bendera Merah Putih, FSKN Ajak Generasi Muda Jaga Sejarah dan Jati Diri Bangsa
Bagikan:

Di momentum HUT RI ke-81, FSKN mengajak generasi muda untuk menjaga persatuan, mencintai sejarah, serta melestarikan budaya sebagai bagian dari jati diri bangsa.

El John News, Jakarta – Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperingati HUT Republik Indonesia ke-81. Pada 17 Agustus 2026, rombongan Raja dan Sultan yang tergabung dalam FSKN menghadiri sekaligus menjadi peserta Upacara Penurunan Bendera Merah Putih di Istana Negara, Jakarta.

Kehadiran FSKN dalam momentum peringatan kemerdekaan menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus refleksi atas peran kerajaan dan kesultanan Nusantara dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Rombongan FSKN dipimpin Ketua Umum FSKN, YM. Brigjen Pol (P) Dr. AA. Mapparessa, MM, M.Si., Raja Turikale VIII Maros, Sulawesi Selatan. Turut hadir YM. Tengku Parameswara, Sultan Indragiri Riau; YM. Yesaya Robert Maurits Koroh dari Kerajaan Amarasi, NTT; YM. Sultan Sepuh XV dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon; YM. Tengku Irvan Bahram dari Kesultanan Kota Pinang, Sumatera Utara; YM. Ibrahim MH Wokas dari Kerajaan Adat Negeri Urung, Majlis Latupati Maluku, Perwakilan Kerajaan Muna Sulawesi Tenggara; Perwakilan Kerajaan Tiworo Sulawesi Tenggara; Perwakilan Kerajaan Insana, NTT; Perwakilan Masyarakat Adat Sumatera Barat; serta Pengurus DPP FSKN.

Bagi para Raja dan Sultan, kemerdekaan Indonesia memiliki makna yang sangat mendalam. YM. Yesaya Robert Maurits Koroh, Kerajaan Amarasi NTT, menilai setiap kerajaan dan kesultanan memiliki perspektif tersendiri dalam memaknai kemerdekaan.

Ia mengingatkan bahwa sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, kerajaan dan kesultanan telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Nusantara dan turut memberikan dukungan bagi berdirinya Indonesia.

“Di saat Indonesia belum merdeka, para Sultan dan Raja itu yang mendukung untuk bangsa ini berdiri,” tutur YM. Yesaya.

Ia berharap, hubungan antara kerajaan dan pemerintah dapat terus diperkuat melalui kolaborasi. Menurutnya, kerajaan dan kesultanan seharusnya dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun daerah masing-masing.

“Semoga Indonesia bisa makmur, dan kita ini sebagai mitra dalam pemerintah Indonesia dengan kerajaan bisa saling kolaborasi untuk membangun sesuatu di daerah masing-masing,” ujarnya.

Senada, YM. Tengku Parameswara, Sultan Indragiri Riau, memaknai kemerdekaan Indonesia sebagai momentum untuk kembali mengingat perjuangan para pahlawan dan leluhur bangsa yang telah berkorban demi mencapai kemerdekaan.

Menurutnya, tugas generasi saat ini bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi juga mengisinya melalui pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

“Mereka berjuang dengan darah dan doa untuk mencapai kemerdekaan. Tentu saat ini kita perlu lebih serius untuk kesejahteraan masyarakat,” kata YM. Tengku Parameswara.

Ia menekankan pentingnya pembangunan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan hingga kesehatan, dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sementara itu, YM. Sultan Sepuh XV, Kasultanan Kasepuhan Cirebon, menyampaikan kebanggaannya melihat Indonesia telah memasuki usia 81 tahun. Ia juga mengingat kembali pengorbanan para Raja dan Sultan Nusantara dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Alhamdulillah, sampai hari ini negara kita masih bersatu dan sudah berumur 81 tahun. Mudah-mudahan ke depannya kita semakin maju dan tentunya sesuai dengan slogan yakni adil dan makmur,” ungkap YM. Sultan Sepuh XV.

Harapan serupa disampaikan YM. Tengku Irvan Bahram, Kesultanan Kota Pinang, Sumatera Utara. Ia menilai persatuan menjadi hal utama yang harus terus dijaga dalam kehidupan berbangsa.

“Kami dari Kesultanan Kota Pinang mengharapkan hasil dari kemerdekaan ini kita tetap bersatu. Karena kita ini berbeda-beda tapi tetap satu, yaitu Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

 

Budaya sebagai Jati Diri Bangsa

Ketua Umum FSKN menegaskan pentingnya peran kerajaan dan kesultanan dalam menjaga kebudayaan sebagai bagian dari karakter bangsa.

Ia menjelaskan bahwa salah satu visi FSKN adalah menjaga budaya Nusantara. Menurutnya, budaya memiliki hubungan erat dengan karakter dan jati diri suatu bangsa.

“Bangsa yang tercabik budayanya, hilang karakternya, itu nanti bangsa yang tidak dihargai oleh bangsa lain. Maka dari itu, kami para Raja Sultan menjaga hal tersebut agar tidak terjadi,” tegas YM. Mapparessa.

FSKN juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Para Raja dan Sultan berharap anak-anak muda Indonesia tidak kehilangan jati diri dan memahami sejarah perjuangan bangsa.

YM. Mapparessa mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak benar, terlebih di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI yang semakin pesat.

“Kami tentunya dari para Raja Sultan dan para penerus berharap generasi muda kita tidak kehilangan jati diri. Kedua, dia harus paham sejarah perjuangan bangsanya,” katanya.

Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan untuk menyebarkan informasi yang positif, tetapi juga memiliki potensi menimbulkan distorsi sejarah apabila tidak digunakan secara bijak.

Sementara itu, YM. Tengku Irvan Bahram mengajak generasi muda untuk lebih mengenal sejarah dan budaya bangsa. Ia menilai pemahaman terhadap akar sejarah menjadi bekal penting untuk menentukan arah masa depan.

“Generasi muda itu wajib mencintai sejarah, mencintai budayanya. Karena kalau kita tidak kenal dengan sejarah dan budaya kita, kita tidak kenal konsep dunia ini seperti apa,” tuturnya.

Pesan senada disampaikan YM. Tengku Parameswara. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan budaya yang telah membentuk jati diri bangsa Indonesia selama ratusan tahun.

“Generasi muda itu harus kenal dengan sejarah dan budayanya. Jangan sampai mereka tidak kenal sehingga melupakan jiwa dan jati diri bangsa Indonesia yang mereka telah terbentuk ratusan tahun yang lalu,” ujarnya.

Ads
17 Agustus
s

Penulis

savira

Tim redaksi El John Media yang berfokus pada liputan pariwisata, bisnis, dan gaya hidup Indonesia.