El John Media Logo
BerandaBeritaKaraeng Turikale VIII Kembali Pimpin FSKN 2026–2031, Perkuat Keraton sebagai Pilar Budaya dan Persatuan Bangsa

Karaeng Turikale VIII Kembali Pimpin FSKN 2026–2031, Perkuat Keraton sebagai Pilar Budaya dan Persatuan Bangsa

S
Sigit Purnomo
21 Oktober 2026
3 menit baca
49 pembaca
Karaeng Turikale VIII Kembali Pimpin FSKN 2026–2031, Perkuat Keraton sebagai Pilar Budaya dan Persatuan Bangsa
Bagikan:

El John News, Jakarta — Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) kembali mempercayakan kepemimpinan organisasi kepada Yang Mulia Brigjen Pol. (Purn.) Dr. H. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si., Karaeng Turikale VIII Maros. Ia ditetapkan kembali sebagai Ketua Umum FSKN periode 2026–2031 dalam rangkaian Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara yang berlangsung di Jakarta pada pertengahan Oktober 2026.

Keputusan tersebut menegaskan kembali kepercayaan para raja dan sultan Nusantara terhadap kepemimpinan Karaeng Turikale VIII untuk membawa FSKN menghadapi tantangan pelestarian budaya sekaligus memperkuat peran keraton dan kesultanan dalam pembangunan bangsa.

Karaeng Turikale VIII sebelumnya telah memimpin FSKN pada periode 2021–2026. Kepercayaan untuk kembali memimpin selama lima tahun ke depan menjadi mandat sekaligus tantangan untuk melanjutkan berbagai agenda organisasi yang berkaitan dengan pelestarian adat, sejarah, tradisi, serta pengembangan potensi ekonomi dan budaya yang dimiliki keraton dan kesultanan di berbagai daerah.

Mandat Baru untuk Keraton Nusantara

Terpilihnya kembali Karaeng Turikale VIII berlangsung di tengah semakin kuatnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap keberadaan keraton serta kerajaan Nusantara sebagai bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya Indonesia.

FSKN tidak hanya menjadi ruang silaturahmi para raja dan sultan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi jembatan antara komunitas adat dengan pemerintah dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Tantangan tersebut semakin besar karena sebagian warisan budaya Nusantara menghadapi persoalan regenerasi, pengelolaan aset budaya, dokumentasi sejarah, hingga keterbatasan sumber daya untuk mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya.

Karena itu, periode kepemimpinan 2026–2031 dinilai menjadi momentum penting untuk mendorong FSKN agar semakin aktif membangun kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, pelaku pariwisata, hingga generasi muda.

Apresiasi untuk Pemprov DKI Jakarta

Dalam momentum Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara 2026, Karaeng Turikale VIII juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas sambutan dan dukungan terhadap kehadiran para raja dan sultan Nusantara di Ibu Kota.

Rangkaian kegiatan FSKN di Jakarta tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan antara para pemangku adat Nusantara dengan pemerintah daerah.

Kehadiran para raja dan sultan dalam berbagai agenda di Jakarta menunjukkan bahwa warisan budaya Nusantara masih memiliki posisi strategis dalam membangun identitas bangsa.

Dukungan pemerintah, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menciptakan sinergi agar kekayaan sejarah dan kebudayaan yang diwariskan para leluhur tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan sosial, budaya, pendidikan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.

Foto: Varrel Ridanly

Dari Pelestarian Menuju Pemberdayaan

Ke depan, FSKN menghadapi pekerjaan besar untuk mengubah kekayaan budaya menjadi kekuatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Keraton dan kesultanan memiliki beragam potensi, mulai dari seni tradisi, busana adat, kerajinan, kuliner, manuskrip, situs sejarah, ritual adat, hingga destinasi wisata budaya.

Potensi tersebut membutuhkan tata kelola yang lebih profesional agar dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi budaya tanpa menghilangkan nilai, identitas, dan marwah tradisi.

Kerja sama FSKN dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, menjadi semakin penting dalam konteks tersebut.

Salah satu arah yang mengemuka dalam rangkaian kegiatan FSKN 2026 adalah penguatan ekonomi berbasis budaya dan pemberdayaan UMKM di lingkungan keraton dan kesultanan.

Dengan demikian, keberadaan keraton tidak hanya dipandang dari sisi sejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, lapangan ekonomi, serta kekuatan diplomasi budaya Indonesia.

Regenerasi Menjadi Tantangan Utama

Selain pelestarian fisik dan tradisi, regenerasi menjadi tantangan penting bagi FSKN.

Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal sejarah dan kebudayaan daerahnya sendiri. Mereka juga perlu dilibatkan dalam dokumentasi, promosi digital, produksi konten budaya, penelitian sejarah, hingga pengembangan ekonomi kreatif.

Di era digital, keberadaan keraton tidak cukup hanya dipertahankan melalui seremoni. Warisan budaya perlu dikemas dengan pendekatan baru agar dapat dipahami dan diterima oleh generasi muda tanpa kehilangan nilai aslinya. Di sinilah FSKN dituntut mengambil peran lebih besar.

Foto: Varrel Ridanly

Lima Tahun Menentukan Arah FSKN

Periode 2026–2031 menjadi babak baru bagi kepemimpinan Karaeng Turikale VIII. Terpilihnya kembali dirinya bukan sekadar kesinambungan kepemimpinan, tetapi juga membawa ekspektasi besar dari para raja dan sultan Nusantara.

FSKN diharapkan semakin solid sebagai wadah silaturahmi sekaligus organisasi yang mampu memperjuangkan kepentingan pelestarian budaya dan memperkuat kontribusi keraton bagi bangsa.

Dengan dukungan pengurus baru, para raja dan sultan, pemerintah pusat dan daerah, serta berbagai pemangku kepentingan, FSKN diharapkan mampu membangun kolaborasi yang lebih luas.

Tantangannya jelas: bagaimana menjadikan warisan masa lalu sebagai kekuatan untuk menjawab kebutuhan masa depan.

Di bawah kepemimpinan Karaeng Turikale VIII untuk periode 2026–2031, FSKN kini memasuki fase baru dengan harapan agar keraton dan kesultanan Nusantara tidak sekadar dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi benar-benar hadir sebagai pilar kebudayaan, perekat persatuan, dan kekuatan ekonomi budaya Indonesia.

Ads
S

Penulis

Sigit Purnomo

Tim redaksi El John Media yang berfokus pada liputan pariwisata, bisnis, dan gaya hidup Indonesia.