El John Media Logo
BerandaBeritaWarisan Keraton Tak Sekadar Sejarah, Mentri Riefky Dorong Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

Warisan Keraton Tak Sekadar Sejarah, Mentri Riefky Dorong Jadi Mesin Ekonomi Kreatif

S
Sigit Purnomo
20 Oktober 2026
3 menit baca
10 pembaca
Warisan Keraton Tak Sekadar Sejarah, Mentri Riefky Dorong Jadi Mesin Ekonomi Kreatif
Bagikan:

El John News, Jakarta — Warisan keraton dan kerajaan Nusantara tidak boleh berhenti sebagai peninggalan sejarah. Kekayaan tradisi, pusaka, cerita sejarah hingga kuliner tradisional dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.

Dorongan tersebut disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, saat membuka Sarasehan Nasional Keraton Nusantara dan Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) 2026 di Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Mengusung tema “Mewujudkan Jakarta sebagai Etalase Keindahan Budaya Nusantara, Menyongsong 5 Abad Jakarta”, forum tersebut tidak hanya membahas pelestarian budaya, tetapi juga bagaimana warisan kerajaan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Riefky menegaskan, kisah sejarah, pusaka dan tradisi yang hidup di lingkungan keraton dapat dikembangkan menjadi berbagai karya kreatif. Mulai dari film, konten digital, fesyen, kerajinan, cendera mata hingga produk kuliner.

“Warisan keraton tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.”

Menurut Riefky, peluang tersebut harus dikelola secara serius agar pelestarian budaya berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah. Kementerian Kebudayaan memiliki peran dalam pelestarian dan revitalisasi keraton, Kementerian Pariwisata dapat mengembangkan kawasan keraton sebagai destinasi wisata sejarah, sementara Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong lahirnya karya dan produk komersial berbasis budaya.

Adapun sektor usaha dan pemasaran dapat diperkuat melalui dukungan Kementerian Koperasi.

Foto: Varrel Ridanly

Keraton Bisa Jadi Pusat Kreativitas Baru

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga menekankan pentingnya menjadikan keraton, istana kerajaan dan museum sebagai pusat pemajuan kebudayaan.

Revitalisasi, menurutnya, tidak cukup hanya memperbaiki bangunan bersejarah. Pengelolaan koleksi, penataan ruang pamer hingga cara menyampaikan sejarah kepada masyarakat juga perlu diperkuat agar keraton semakin mudah diakses dan dipahami generasi muda.

Potensi ekonomi juga terbuka dari produk-produk khas keraton, termasuk cendera mata dan kuliner yang bersumber dari resep tradisional.

Dengan kemasan kreatif dan strategi pemasaran yang tepat, kekayaan tersebut berpeluang menjadi identitas produk sekaligus sumber pendapatan masyarakat.

FSKN Dorong Ensiklopedia Keraton Nusantara

Sementara itu, Ketua Umum FSKN A.A. Mapparessa Karaeng Turikale VIII Maros mengusulkan penyusunan Ensiklopedia Keraton dan Kerajaan Nusantara.

Gagasan ini dinilai penting karena Indonesia memiliki banyak kerajaan dan keraton dengan sejarah, silsilah, tradisi serta kekayaan budaya yang beragam.

Ensiklopedia tersebut nantinya diharapkan memuat asal-usul kerajaan, silsilah, tradisi, pusaka serta berbagai aset budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Dokumentasi yang terstruktur juga dapat menjadi rujukan pemerintah dalam menentukan kebijakan, menetapkan prioritas pelestarian, sekaligus memberikan dukungan yang lebih tepat kepada keraton dan kerajaan di berbagai daerah.

Foto: Varrel Ridanly

Dari Warisan Menjadi Industri

Sebagai langkah konkret, Riefky meminta FSKN menyusun rencana kerja yang dapat dibahas bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah.

Langkah ini menjadi penting agar kekayaan budaya tidak hanya tersimpan di lingkungan keraton, tetapi dapat diterjemahkan menjadi karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Jika dikelola secara profesional, keraton bukan hanya dapat menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pusat kreativitas, pariwisata, ekonomi lokal dan diplomasi budaya Indonesia di masa depan.

Sarasehan Nasional dan Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara FSKN 2026 berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 di Jakarta. Forum tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari perlindungan kelembagaan keraton, revitalisasi aset budaya hingga pengembangan festival yang melibatkan kerajaan dan masyarakat adat.

Ads
S

Penulis

Sigit Purnomo

Tim redaksi El John Media yang berfokus pada liputan pariwisata, bisnis, dan gaya hidup Indonesia.