El John Media Logo
BerandaBeritaKeraton Nusantara Bukan Sekadar Warisan, Menbud Dorong Jadi Pusat Budaya dan Penggerak Ekonomi

Keraton Nusantara Bukan Sekadar Warisan, Menbud Dorong Jadi Pusat Budaya dan Penggerak Ekonomi

S
Sigit Purnomo
20 Oktober 2026
3 menit baca
7 pembaca
Keraton Nusantara Bukan Sekadar Warisan, Menbud Dorong Jadi Pusat Budaya dan Penggerak Ekonomi
Bagikan:

El John News, Jakarta — Keraton dan kerajaan Nusantara tidak lagi dipandang sekadar sebagai peninggalan sejarah masa lalu. Pemerintah menilai keberadaan keraton merupakan modal budaya (cultural capital) yang memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis kebudayaan.

Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Nasional Keraton Nusantara bertajuk “Mewujudkan Jakarta Sebagai Etalase Keindahan Budaya Nusantara, Menyongsong 5 Abad Jakarta” yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan, keraton merupakan ruang hidup yang terus melahirkan dan menjaga ekspresi budaya lintas generasi.

«“Keraton dan kerajaan kesultanan di Nusantara ini merupakan modal budaya atau cultural capital kita yang perlu kita jaga.”»

Menurut Fadli, kekayaan budaya Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke tidak hanya tercermin melalui kesenian dan tradisi, tetapi juga melalui keberadaan keraton serta lembaga adat yang selama berabad-abad menjadi penjaga nilai, sejarah, dan identitas masyarakat.

Keraton Didorong Naik Kelas

Pemerintah kini mendorong agar keraton tidak berhenti pada fungsi pelestarian sejarah. Berbagai kompleks keraton, museum, istana, dan ruang budaya diharapkan dapat direvitalisasi menjadi kantong-kantong budaya yang terbuka dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Fadli Zon menilai penguatan fungsi ruang budaya dapat menghasilkan dampak berantai, mulai dari pendidikan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat hingga ekonomi kreatif.

«“Kita harapkan ini bisa menjadi semacam upaya untuk mendorong kemajuan kebudayaan dan menjadikan museum, taman budaya, keraton, istana, dan semuanya ini sebagai enklaf budaya atau kantong budaya.”»

Foto: Varrel Ridanly

Konsep tersebut membuka ruang bagi pengembangan berbagai produk berbasis warisan budaya. Cendera mata khas keraton, kriya, busana, kuliner tradisional hingga berbagai karya kreatif dapat dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan filosofi yang melekat di dalamnya.

Warisan Budaya Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai aset budaya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah.

Menurutnya, sejarah, narasi, filosofi pusaka, tradisi, hingga identitas kerajaan dapat menjadi sumber inspirasi bagi berbagai subsektor industri kreatif, termasuk kriya dan perfilman.

Transformasi tersebut diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi budaya yang melibatkan masyarakat, pelaku kreatif, pemerintah, hingga lembaga adat.

“Setelah aset budaya menjadi aset ekonomi, pengelolaan dan penjualannya bisa melalui wadah koperasi,” ujar Teuku Riefky.

FSKN Soroti Perlindungan Hukum dan Digitalisasi Keraton.

Foto: Varrel Ridanly

Di tengah dorongan transformasi tersebut, Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) menyampaikan sejumlah aspirasi strategis kepada pemerintah.

Ketua Umum DPP FSKN sekaligus Karaeng Turikale VIII Maros, Brigjen Pol. (Purn.) A.A. Mapparessa, mendorong setidaknya tiga agenda penting.

Pertama, penguatan payung hukum untuk melindungi kebudayaan keraton Nusantara. Kedua, penyusunan Ensiklopedia Keraton Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan dokumentasi sejarah. Ketiga, percepatan digitalisasi aset, arsip, dan dokumentasi sejarah keraton.

Digitalisasi dinilai penting bukan hanya untuk menyelamatkan data sejarah dari risiko hilang, tetapi juga untuk membangun basis data kebudayaan yang lebih kuat bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan.

Jakarta Diproyeksikan Menjadi Etalase Budaya Nusantara

Sarasehan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menempatkan Jakarta sebagai ruang perjumpaan budaya Nusantara menjelang lima abad perjalanan Kota Jakarta.

Pertemuan pemerintah dengan para raja, sultan, pemangku adat, dan komunitas budaya menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Foto: Varrel Ridanly

Keraton membutuhkan perlindungan, tetapi juga membutuhkan inovasi. Sejarah membutuhkan dokumentasi, tetapi juga perlu dihidupkan kembali melalui generasi muda. Sementara kekayaan budaya membutuhkan pelestarian sekaligus strategi agar mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Dengan sinergi tersebut, Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga tampil sebagai etalase kebudayaan Nusantara yang memperlihatkan kekayaan identitas Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Ads
S

Penulis

Sigit Purnomo

Tim redaksi El John Media yang berfokus pada liputan pariwisata, bisnis, dan gaya hidup Indonesia.